Review: Buku Semalam di Kereta Bima Sakti

 




Judul buku: Semalam di Kereta Bima Sakti 
Pengarang: Kenji Miyazawa
Penerbit: Penerbit Mai (terjemahan bahasa Indonesia)
Kota terbit: pertama kali terbit di Jepang 1980
Halaman: 116
Harga: Rp64.000,-

Sinopsis (peringatan, mengandung bocoran plot lengkap alur buku)

Buku ini berpusat pada protagonis bernama Giovanni, seorang lelaki kecil yang kerap dirundung oleh Zaneli karena sang ayah tak kunjung pulang dari melaut. Bahkan saat ditanya guru tentang darimana cahaya putih di galaksi Bima Sakti itu berasal, ia hanya bisa terdiam, takut jika jawabannya salah dan ditertawakan. Pertanyaan dialihkan pada Campanella, satu satunya orang yang berpihak pada Giovanni.

Saat malam Festival Alpha Centauri, hanya Giovanni yang tidak diajak bersiul dan menyanyi bersama. Ia sudah bisa mencium bau ejekan Zaneli dari rombongan anak anak itu dan Campanella berada di antara mereka. Karena itu ia berlari pergi ke bukit menyendiri.

Ketika Giovanni membuka matanya, ia mendapati bahwa dirinya telah duduk di sebuah bangku kereta asing yang mengarungi langit cerah berbintang malam itu. Ia mengamati bintang bintang di luar hingga menemukan Campanella yang duduk di seberang. Giovanni sungguh bersyukur sahabatnya menemani di gerbong kereta yang entah mengarah kemana. Kereta itu melayang, melewati sungai galaksi Bima Sakti yang berkilauan di antara bintang-bintang. Meskipun mereka tidak tahu kemanakah ujung jalur kereta Bima Sakti, setidaknya mereka memiliki satu sama lain untuk ditemani.

Setiap stasiun pemberhentian rasi bintang memiliki ceritanya masing masing. Seorang pemburu burung dari stasiun angsa putih memamerkan hasil tangkapannya kepada dua pria kecil itu karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Dua bersaudara sepantaran mereka yang naik di pertengahan jalan membuatnya menyadari bahwa hanya Giovanni yang memiliki tiket yang berbeda.

Penumpang lain turun dari kereta di pemberhentian masing-masing, Giovanni menjadi takut jika Campanella akan meninggalkannya seorang diri di gerbong kosong. Bahkan setelah berjanji, Campanella menghilang begitu saja dari kursinya, tepat setelah kereta melewati sebuah tempat yang ia bilang mirip dengan surga. Giovanni hanya bisa menangis tak percaya bahwa satu satunya teman di hidupnya telah menghilang.

Giovanni terbangun di bukit yang sama, tepat di dekat menara stasiun cuaca. Lelaki kecil itu bergegas kembali mengambil susu seperti yang diperintah ibunya, namun langkahnya terhenti ketika melihat kerumunan di dekat sungai festival. Katanya seorang anak telah jatuh ke sungai.

Jantungnya berdebar kencang, memberanikan diri bertanya siapakah nama anak yang hanyut itu. Nama Zaneli keluar pertama kali karena memang ia yang tercebur duluan namun Campanella membantunya naik hingga membuat dirinya sendiri hanyut. Zaneli baik baik saja setelah berhasil diselamatkan sementara Campanella masih belum ditemukan setelah 45 menit berlalu.

Giovanni bergegas lari menuju ke rumah. Sesak memenuhi dadanya ketika menyadari bahwa Campanella benar benar meninggalkannya sendiri.

Ulasan / resensi:

Buku ini dapat dikatakan sebagai buku terakhir, sekaligus penutup usia Kenji sendiri. Hal ini dikarenakan naskah revisi Semalam di Kereta Bima Sakti ditemukan tergeletak di samping tubuh penulisnya yang sudah tidak bernyawa lagi. Naskah yang masih belum matang ini menimbulkan kebingungan karena sang penulis telah meninggal sebelum direvisi secara utuh. Terdapat beberapa versi revisi yang dibuat dari naskah tersebut, sementara buku yang saya baca adalah versi revisi keempat dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Mai, kualitas terjemahannya cukup bagus sehingga mudah dipahami pembaca. Ilustrasi yang digarap oleh Pola juga memberi kesan buku dongeng yang manis di sela-sela perjalanan kereta, seolah pembaca bisa melihat sendiri pemandangan galaksi bima sakti dari jendela penumpang. Layout yang nyaman dan kualitas kertas yang bagus juga membuat pengalaman membaca menjadi lebih menyenangkan.

Gaya penulisan Kenji Miyazawa yang mengambil sudut pandang anak kecil berhasil menggambarkan dunia secara sederhana di dalam bukunya. Latar belakang fantasi yang kental juga berhasil digambarkan lewat jendela gerbong kereta yang menghadap pada sungai galaksi Bimasakti. Beberapa rasi bintang yang menjadi sorotan seperti rasi bintang salib utara, angsa putih, scorpio, dan taurus turut menghiasi perjalanan kereta di buku ini.

Penokohan anak-anak yang polos menggiring pembaca untuk bersimpati pada dunia kecil mereka. Buku ini adalah perjalanan seorang anak untuk memahami apa arti dari sebuah kematian. Perasaan sedih ketika selesai membaca bab terakhir buku ini mungkin sesuatu yang tidak dapat dihindari karena mungkin itulah keinginan Kenji Miyazawa sendiri.

Buku ini telah diadaptasi menjadi komik, film, teater, bahkan diabadikan sebagai sebuah lagu karena alur ceritanya yang indah. Salah satu adaptasi yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah lagu berjudul “Zaneli” oleh Teniwoha dan “Bouquet and Stars” oleh Nuyuri. Keduanya merepresentasikan cerita dari sudut pandang tokoh Zaneli.

Di sisi lain, terdapat beberapa kekurangan pada naskah seperti adegan yang kurang masuk akal dan sebuah halaman hilang pada naskah aslinya. Hal ini mungkin terjadi karena proses revisi belum selesai ketika hidup sang penulis telah usai. Penggambaran galaksi bima sakti dari dalam buku tersebut sebenarnya masih dapat dikembangkan lebih luas lagi. Misalnya bagaimana jika mekanisme atau sistem kereta itu bekerja dan siapa yang mengoperasikannya. Stasiun pemberhentian rasi bintang juga dapat diperdalam lagi maknanya. Tema yang diambil yaitu tentang astronomi sebenarnya memiliki banyak potensi untuk digali, mungkin saja jika Kenji Miyazawa masih hidup dan mendapatkan informasi yang cukup, beliau bisa membuat buku ini menjadi lebih baik.

Orang-orang yang bertemu Giovanni dan Campanella kebanyakan tidak menyebutkan namanya, ini tidak menjadi masalah namun kesan yang diberikan oleh penumpang lain menjadi hampir tidak terasa. Terdapat juga kejanggalan lain tentang bagaimana penumpang lain masuk ke kereta dengan normal sementara Giovanni yang masuk begitu saja dalam sekali kedipan mata. Begitu pula tentang segitiga bersinar dan hal-hal lain yang belum dapat dijelaskan hingga bagian revisi terbaru.

Saya sungguh mengapresiasi karya ini meskipun belum sempurna ketika sang penulis telah purna. Alasan saya memutuskan untuk membeli buku ini awalnya tidak lebih dari rasa penasaran dari lagu-lagu yang mengambil referensi darinya. Terutama pada lagu “Bouquet and Stars” karya Nuyuri yang merupakan salah satu komposer favorit saya. Kebetulan sekali setelah lagu tersebut rilis, versi terjemahan buku ini telah dicetak dan tanpa pikir panjang saya langsung membelinya. Harganya cukup murah untuk buku terjemahan.

Baru setelah menyelesaikan buku ini, saya menjadi sadar mengapa banyak orang yang mengapresiasi dan mengadaptasi ceritanya. Sebuah kisah yang sekaligus menutup usia penulisnya, kini abadi sebagai bagian dari literatur klasik sepanjang masa. Uang yang saya bayarkan untuk menikmati karya ini sungguh sepadan. Ditambah dengan ilustrasi Pola yang memikat mata juga menjadi nilai plus bagi saya selaku pembeli.

Rating saya untuk buku ini kurang lebih 8.5/10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: Buku The Magic Library

Essai Iseng: Mengapa kita membaca